MAKAM RAJA MATARAM DI IMOGIRI
Di komplek makam raja
Mataram di Imogiri ini bersemayam raja-raja dari kerajaan Mataram Islam, dan
raja-raja penerus dinasti Mataram yaitu raja-raja dari kerajaan Surakarta
(kasunanan Surakarta) dan kerajaan Yogyakarta (kasultanan Ngayogyakarta).
Berjarak 25 menit berkendara dari Wisma Murni Jogja, Makam Raja Mataram Jogja dan Surakarta ini terletak di bukit Imogiri yang berarti Bukit Kembang. Komplek makam raja
Mataram di Imogiri menjadi salah satu wisata sejarah yang favorit. Berada di KAPANEWON IMOGIRI di KABUPATEN BANTULpengunjung Makam Raja di Imogiri ini, harus menaiki ratusan tangga yang curam untuk menjangkau puncak makam. Menurut
kepercayaan sebagian orang, pengunjung
yang bisa menghitung jumlah anak tangga makam raja di Imogiri dengan benar akan
mendapatkan keberuntungan. Saya sendiri
tidak pernah bisa menghitung dengan ajeg. Jumlahnya selalu berubah setiap kali
menghitung.
Ada banyak ritual adat
yang masih dipraktikkan di makam raja di Imogiri ini. Salah satunya adalah adat
menguras ‘air keramat’ dimana orang berebut ‘berkah’ dengan meminta air yang
dikuras dari empat ‘gentong’ besar dari tanah liat. Tradisi lainnya adalah, kewajiban bagi setiap
pengunjung untuk mengenakan pakaian adat berupa ‘kemben’ (penutup dada untuk
perempuan, dengan bahu terbuka) atau ‘peranakan’ (baju lengan
panjang bermotif lurik untuk laki-laki) dilengkapi ‘iket’ (penutup kepala khas). Hal ini pernah diteliti oleh siswa SMP bernama Evelyne Dyah yang membawanya mendapatkan medali emas dalam lomba penelitian tingkat nasional.
Di komplek makam raja Mataram
dan raja Surakarta serta raja Yogyakarta ini, kita juga bisa menikmati minuman
herbal yang dikenal ‘wedang uwuh’ yang bahan-bahannya berupa ‘uwuh’ (sampah
guguran daun dan kayu), daun cengkih, daun pala, kayu manis, ditambah jahe dan
gula batu. Sebagian orang menyebutnya ‘wedang ningrat’ karena minuman ini
dulunya hanya bisa dinikmati oleh keluarga bangsawan yang berkunjung ke makam
leluhur mereka ini. Baru belakangan ini saja orang umum bisa mengambil bahan-bahan
yang hanya ada di dalam komplek makam itu saja , yang kemudian menamainya
‘wedang uwuh.’ Rasanya hangat dan
menyegarkan dengan warna air yang merah cerah dengan manis yang sangat legit.
Yogyakarta, 8 Januari
2020
SUPRIYONO, SH, SPD, MM, CM

