HUTAN PINUS MANGUNAN
Pagi itu kami 'mruput' meninggalkan Wisma Murni Jogja menyusuri jalan Imogiri Barat menuju Puncak Hutan Pinus di Bantul yang berjarak sekitar 20 kilometer ke arah selatan. Jalanan masih relatif lengang karena akhir pekan dan masih pagi. Separuh perjalanan kami melewati permukaan jalan yang datar dan halus. Separuhnya lagi kami lalui dengan menanjak cukup tajam. Tebing dan jurang curam di kanan dan kiri kami memberi pemandangan yang sensasional. Perkampungan dan hamparan sawah terlihat di sisi kiri kami,sedangkan deretan bukit cadas tegak gagah berdiri di sebelah kanan kami. Hanya butuh waktu 40 menit kami sudah sapai di Hutan Pinus yang legendaris itu.
Decak kagum sudah ditunjukkan anak kami, sewaktu kami memarkir kendaraan. Tegakan pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang gagah merebut perhatian dengan memamerkan gurat-gurat otot kayu yang eksotik dan postur batang yang tinggi besar. Hembusan angin meniupkan desir dari dedaunan yang tipis di pucuk. Memanjakan indera penglihatan dan pendengaran kami. Inilah surga, kata anak kami. Link bisa dilihat di https://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_Pinus_Mangunan
Kami bergegas memasuki loket dan membayar harga tiket masuk. Berapa? Cuma Rp. 3.000 rupiah per orang. Ya, hanya seharga satu gelas teh saja. "Wah, murah banget," seru anak kami. Taklupa kami juga didata, untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19. Setelah selesai, kami disilakan masuk. Tak sabar, gadis kecil kami sudah menghambur ke taman yang dilengkapi bangku-bangku duduk. Terus ke dangau-dangau yang sengaja dibangun untuk menjadi spot foto. "Itu apa, Pa?" tanya anak kami menunjuk jalan setapak beralas kayu pinus yang membentang meliuk-liuk mengikuti arah jalan setapak. "Oh, itu jalan Nak. Biar kita tidak terperosok, dibuatkan jalan setapak beralas kayu oleh pengelola," jawabku.
"Dan dibawah sana itu panggung. Untuk pertunjukan kesenian," lanjut ku menjelaskan. "Yang melingkar itu kursi-kursi penonton,' imbuhku.
Angin bertiup kencang Tapi kami tidak kedinginan. Yang kami rasakan justru udara segar. Aroma khas pohon pinus menyeruak. Aroma alam yang sangat memesona anak gadis kami, yang sudah sibuk memunguti guguran bunga-bunga pinus. "Untuk bikin kerajinan tangan," katanya. Bunga-bunga pinus itu berbentuk unik. Bulat gemuk di bawah, dan runcing lancip di ujung. Tubuhnya bergerigi, yang kelak mekar menjadi semacam bilah-bilah tajam dan runcing.
Kami duduk melepas pandang. Tak bisa memandang lepas, karena tatapan kami terhalang batang-batang pohon pinus. Tapi justru disitulah keindahannya. Lekuk batang pohon pinus tampak begitu indah. Kami juga kagum pada postur tinggi semampainya yang aduhai. Belum lagi saat bergoyang. Fantastik. Kami benar-benar memanjakan diri dengan menyatu bersama alam. Alam yang terasa jauh dari kehidupan kota yang sesak dan pengap. Alam yang kami rengkuh kembali dengan mengunjungi Hutan Pinus ini. What a wonderful world!
Yogyakarta 27 Februari 2021
'mruput (bahasa Jawa) artinya awal sekali


Comments
Post a Comment