VIRUS CORONA DAN INDUSTRI PARIWISATA


               

Merebaknya virus corona yang dikenal sebagai Covid 19 telah mengacaukan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Beberapa kebiasaan baik seperti silaturahmi mulai dibatasi. Arisan, pertemuan dasawisma, dan musyawarah desa mulai dihentikan, atau paling tidak dikurangi. Bahkan kita dianjurkan untuk menerapkan ‘social distancing’ yaitu menjaga jarak dalam kegiatan bermasyarakat. Untuk mencegah penularan Covid 19, kita harus menjaga jarak duduk atau berdiri, tidak berjabat tangan, apalagi cium kanan cium pipi kiri atau cipika cipiki. Pendek kata ajang silaturahmi pun mandeg. Bahkan ada keinginan dari beberapa pihak agar beribadah tidak perlu berjamaan untuk sementara waktu. Cukup dilakukan di rumah.
Kita semua tersentak, pandemi virus corona versi baru ini bisa menggoyang hampir semua sendi kehidupan. Travel warning dikeluarkan agar tidak berkunjung ke negara-negara yang terjangkit virus ini.  Di sisi lain, negara juga memberlakukan lockdown untuk menangkal keluar masuknya orang dari suatu wilayah atau negara. Bahkan bila keadaan gawat, setiap orang bisa dikarantina di rumahnya sendiri.
Pariwisata adalah salah satu industri yang lesu karena virus corona ini. Bagaimana tidak? Ada kebijakan pemerintah yang meminta masyarakat mengkarantina diri dengan tidak bepergian ke tempat umum, termasuk tempat wisata. Ada kebijakan, meskipun parsial, sejumlah sekolah diliburkan dan sejumlah perguruan tinggi melaksanakan sistem belajar mengajar secara daring. Bahkan beberapa kantor membolehkan karyawan bekerja dari rumah. Tentu ada saja orang-orang yang membandel dengan melawan arus kebijakan pemerintah. Tapi secara umum, industri pariwisata, termasuk hotel, guesthouse, homestay, dan penginapan  seperti mati suri. Tingkat hunian rendah, bahkan beberapa hotel mencapai nol persen. Sumber-sumber pendapatan mereka dari penginapan sepi. Acara convention, workshop, seminar, dan simposium nihil.
Sampai hari ini, beberapa daerah sudah menetapkan status Keadaaan Luar Biasa Covid 19, seperti DKI Jakarta dan Kota Surakarta,.Beberapa kalangan menilai  status lockdown yang diberlakukan pemerintah atau pemerintah daerah bisa mematikan perekonomian masyarakat. Di sisi lain, banyak pihak mendukung langkah tersebut sebagai upaya mencegah meluasnya pandemic Covid 19 yang bisa berdampak jauh lebih buruk, seperti lumpuhnya sendi-sendi kehidupan manusia.
Akhirnya, kita semua berharap agar pandemi ini segera berlalu. Semua pihak harus bahu membahu mengatasi krisis kesehatan global ini. Kebersamaan diperlukan untuk mengenyahkan virus ini dari bumi nusantara. Taati kebijakan pemerintah. Bukan saatnya kita berpolemik politik. Dengan berakhirnya krisis ini, kita berharap semoga perekonomian bisa segera pulih, termasuk pulihnya bisnis pariwisata di bidang hotel dan penginapan.

Yogyakarta, 16 Maret 2020
Supriyono, SH, S.Pd., SE, MM, CM
Pimpinan Penginapan Wisma Murni Jogja

Comments

Popular posts from this blog

ALAMAT HOTEL MURAH

PENGINAPAN DEKAT KAMPUS UAD 4 DAN 5

BOOKING KAMAR UNTUK LIBUR NATAL 2023 DAN TAHUN BARU 2024